Pembangunan Ekonomi Daerah
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Menurut Irawan dan Suparmoko (2002:5) Pembangunan ekonomi
adalah usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang seringkali
diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riil per kapita. Jadi tujuan
pembangunan ekonomi disamping untuk menaikkan pendapatan nasional riil juga
untuk meningkatkan produktivitas. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa tingkat
output pada suatu saat tertentu ditentukan oleh tersedianya atau digunakannya
baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia,tingkat teknologi,keadaan
pasar dan sistem perekonomian. Jadi pembangunan ekonomi tidak saja merupakan
usaha negara-negara yang relative belum berkembang,tetapi juga merupakan sebuah
usaha dari negara-negara yang relatif sudah berkembang.
Pembangunan ekonomi daerah berbeda dengan pembangunan
ekonomi di Nasional. Pembangunan ekonomi di daerah bersifat membangun dan
mengembangkan potensi-potensi ekonomi di daerah tersebut. Ada beberapa alasan
yang menyebabkan ekonomi di daerah lebih bersifat membangun dan mengembangkan
potensi-potensi ekonomi yang ada di daerah.
Menurut Lincolin Arsyad(1997:274) Pembangunan Ekonomi
Daerah adalah suatu proses di mana pemerintah daerah dan masyarakatnya
mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan
antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan
kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan ekonomi.
PEMBAHASAN
Menurut
Lincolin Arsyad(1997:274) Pembangunan Ekonomi Daerah adalah suatu proses di
mana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang
ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor
swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang peningkatan
kegiatan ekonomi.
Masalah
pembangunan ekonomi daerah adalah terletak pada penekanan terhadap
kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang
bersangkutan dengan menggunakan potensi sumber daya manusia,kelembagaan,dan
sumber daya fisik secara lokal(daerah). Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu
proses yaitu proses yang mencangkup pembentukan institusi-institusi
baru,pembangunan industry-industri alternatif,perbaikan kapasitas tenaga kerja
yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik,identifikasi
pasar-pasar baru,alih ilmu pengetahuan,dan pengembangan perusahaan-perusahaan
baru.
Agar
tujuan pembangunan ekonomi mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan
jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan
tersebut,pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama
mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu pemerintah daerah
beserta partisipasi masyarakat dan dengan menggunakan sumber daya-sumber daya
yang ada harus mampu menaksir potensi sumber daya yang diperlukan untuk
merancang dan membangun perekonomian daerah.
Pembangunan
ekonomi adalah usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang
seringkali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riil per kapita. Jadi
tujuan pembangunan ekonomi disamping untuk menaikkan pendapatan nasional riil
juga untuk meningkatkan produktivitas. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa
tingkat output pada suatu saat tertentu ditentukan oleh tersedianya atau
digunakannya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia,tingkat
teknologi,keadaan pasar dan sistem perekonomian. Jadi pembangunan ekonomi tidak
saja merupakan usaha negara-negara yang relative belum berkembang,tetapi juga
merupakan sebuah usaha dari negara-negara yang relatif sudah berkembang (Irawan dan Suparmoko:2002:5)
Pembangunan ekonomi daerah mempunyai bobot yang besar
dalam konteks pembangunan ekonomi nasional. Pembangunan ekonomi daerah lebih
tertuju kepada pembangunan kualitas manusiannya atau SDM. Dalam jangka pendek
pembangunan aspek fisik manusia memang diperlukan,tetapi dalam jangka panjang
justru aspek rohaniah yang perlu di prioritaskan oleh karena itu rohani itulah
yang akan mengendalikan fisik dalam rangka pembangunan manusia itu sendiri.
Tujuan pembangunan nasional tidak lain mencari dan mencapai keseimbangan dan
keselarasan antara daerah perkotaan dan daerah pedesaan dan antara daerah satu
dengan daerah lainnya. (Hadi Prayitno dan M. Umar Burhan:1987:10).
Pembangunan
ekonomi di daerah berbeda dengan pembangunan ekonomi di tingkat nasional.
Pembangunan ekonomi di tingkat daerah bersifat membangun dan mengembangkan
potensi-potensi ekonomi di daerah tersebut,sedangkan pembangunan di tingkat
nasional bersifat membangun dan mengembangkan potensi-potensi ekonomi yang
berkarakter agregat. Ada alasan yang menyebabkan hal itu terjadi.
Ø Pertama,
struktur politik dan administrasi pemerintah pusat memiliki kedudukan
pemerintahan yang lebih tinggi dari pada pemerintah di daerah. Hal ini memiliki
implikasi bahwa berbagai problem dan berbagai hal lain terkait dengan
pembangunan ekonomi yang berkarakteristik di luar ruang lingkup kewenangan
suatu daerah tertentu,berskala lebih luas dari satu daerah apalagi berskala
nasional menjadi tanggung jawab dan kewenangan pemerintahan yang lebih tinggi.
Ø Kedua,terkait
dengan implikasi kedudukan politik dan pemerintahan,jika digunakan
pengelompokan kebijakan ekonomi menjadi fiskal dan monete,maka pemerintah pusay
mempengaruhi perekonomian melalui kebijakan fiskal dan moneter,sedangkan
pemerintahan di daerah mempengaruhi perekonomian daerah melalui kebijakan
fiskal daerah.
Dalam
perspektif seperti itu dapat diduga bahwa pemerintahan daerah dalam tujuan
agregasi spasialnya akan mendukung tujuan agregasi total pemerintahan
pusat,berupa peningkatan produksi daerah melalui pengentasan
kemiskinan,penyediaan lapangan pekerjaan dan pemanfaatan kekayaan daerah.
Hubungan antara tujuan pembangunan ekonomi di tingkat pusat dan daerah serta
keterkaitannya dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat dan
daerah,dimana APBN dari pemerintah pusat disalurkan sebagian melalui APBN
daerah.
Hambatan-Hambatan
dalam Pembangunan Daerah
Menurut
Hadi Prayitno dan M.Umar Burhan (1987:8) Beberapa permasalahan yang menghambat pembangunan
daerah
1.
Potensi sumber-sumber alam belum
dikelola dengan secara optimal
2.
Mutu tenaga kerja rendah
3.
Sikap manusia dan fungsi kelembagaan di
pedesaan belum sejalan dengan gerak pembangunan
Permasalahan pokok tunggal dalam pembangunan
daerah terletak pada manusianya. Masalah
kedua
dan ketiga jelas merupakan masalah peningkatan mutu manusia,sedang permasalahan
pertama adalah sebagai akibat dari permasalahan kedua dan ketiga. Dengan
demikian maka sasaran pokok dari pembangunan ekonomi daerah adalah “membangun
manusianya itu sendiri”. Tingkat kesadaran dan ketrampilan penduduk masih belum
memadai menyebabkan produktivitas dan pendapatan masyarakat yang rendah.
Strategi
untuk Pembangunan Ekonomi Daerah
Menurut Lincolin Arsyad (1992:201)
Strategi yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mendongkrak pembangunan
ekonomi daerahnya dalam rangka mengurangi kemiskinan.
·
Pembangunan Pertanian
Sektor pertanian
berperan penting dalam pembangunan ekonomi dan pengurangan kemiskinan di Indonesia.
Ada 3 aspek dari pembangunan pertanian yang telah memberikan kontribusi yang
cukup besar dari pengurangan kemiskinan,terutama di daerah pedesaan. Kontribusi
terbesar bagi peningkatan pendapatan pedesaan dan pengurangan kemiskinan
pedesaan dihasilkan dari adanya revolusi teknologi dalam pertanian
padi,termasuk pembangunan irigasi.
·
Pembangunan Sumber Daya Manusia
Perbaikan akses terhadap konsumsi pelayanan sosial
(pendidikan,kesehatan,dan
gizi)merupakan
alat kebijakan penting dalam strategi pemerintah secara keseluruhan untuk
mengurangi kemiskinan dan meperbaiki kesejahteraan penduduk di Indonesia. Di
setiap daerah pendidikan berperan penting dalam mengurangi kemiskinan dalam
jangka panjang,baik secara tidak langsung melalui perbaikan produktivitas dan
efisiensi secara umum,maupun secara langsung melalui pelatihan golongan miskin
dengan ketrampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas mereka pada
gilirannya akan meningkatkan pendapatan mereka.
STUDI KASUS
JAKARTA -
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkapkan, penyerapan Dana Alokasi
Umum (DAU) yang ditujukan sebagai modal membangun infrastruktur daerah masih
rendah. Pasalnya banyak daerah yang mengutamakan mengalokasikan DAU untuk
belanja pegawai seperti gaji.
"Kenyataannya banyak daerah yang belum mencapai 25% untuk belanja infrastruktur. Ada yang bilang boro-boro bu, sebagian besar habis untuk gaji makanya tidak merata pembangunanya," kata Menkeu Sri Mulyani di Jakarta, Senin (10/12/2018).
Kendati demikian, terang dia alokasi belanja pegawai di daerah terserap dengan baik. Sebab, porsi belanja pegawai yang sebesar 36% dari yang sebelumnya sebesar 60%. Sedangkan untuk belanja barang dan jasa sebesar 23% serta belanja modalnya 19%.
"Kenyataannya banyak daerah yang belum mencapai 25% untuk belanja infrastruktur. Ada yang bilang boro-boro bu, sebagian besar habis untuk gaji makanya tidak merata pembangunanya," kata Menkeu Sri Mulyani di Jakarta, Senin (10/12/2018).
Kendati demikian, terang dia alokasi belanja pegawai di daerah terserap dengan baik. Sebab, porsi belanja pegawai yang sebesar 36% dari yang sebelumnya sebesar 60%. Sedangkan untuk belanja barang dan jasa sebesar 23% serta belanja modalnya 19%.
"Jadi
sudah pasti bahwa belanja untuk infrastruktur yang harusnya 25% ternyata tidak
tercapai. Tapi belanja pegawai lainnya terserap sebab 19% belanja
modalnya," ujar dia.
Oleh karena itu, Sri Mulyani meminta kepada daerah untuk lebih bijak dalam memanfaatkan dana transfer ke daerah, khususnya alokasi yang digunakan untuk membangun infrastruktur baik dasar maupun berat. "Saya mengharapkan ke dirjen perimbangan untuk terus melakukan rencana kepada daerah agar suatu saat nanti DAU final bisa diganti ke dinamis pada saat daerah sudah memiliki kapasitas yang makin baik," tandasnya.
Oleh karena itu, Sri Mulyani meminta kepada daerah untuk lebih bijak dalam memanfaatkan dana transfer ke daerah, khususnya alokasi yang digunakan untuk membangun infrastruktur baik dasar maupun berat. "Saya mengharapkan ke dirjen perimbangan untuk terus melakukan rencana kepada daerah agar suatu saat nanti DAU final bisa diganti ke dinamis pada saat daerah sudah memiliki kapasitas yang makin baik," tandasnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembangunan
ekonomi
di daerah kurang optimal dan dalam sektor pertanian sebenarnya mempunyai peran
penting untuk membangun suatu perekonomian di tiap-tiap daerah. Pemerintah
daerah memberikan prioritas alokasi dana atau belanja modal pada pengeluaran
dan pengembangan dalam sektor pertanian. Anggaran dana pertanian dapat
dijadikan pilihan pemerintah dalam penentuan anggaran setiap tahunnya. Selain
itu pemerintah untuk membangun perekonomian di darah sekitar dalam mengurangi
kemiskinan dilakukan dengan memperbaiki sistem pendidikan dan mengupayakan
pelatihan bagi para pekerja yang memberikan kemungkinan bagi para pekerja untuk
mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi dari sebelumnya
Daftar
Pustaka
ARSYAD.LINCOLIN.1992.Ekonomi
Pembangunan.Yogyakarta:Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
Irawan
dan Suparmoko.1992.EKONOMIKA PEMBANGUNAN.Yogyakarta:BPFE-YOGYAKARTA.
ARSYAD.LINCOLIN.1997.EKONOMI
PEMBANGUNAN.Yogyakarta: Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
selamat siang... saya arif 010 izin bertanya.. jelaskan faktor penghambat dalam upaya pembangunan daerah ? jelaskan!
BalasHapusTerimakasih
baik mas arif,terimakasih pertanyaanya. mungkin disini saya akan sebutkan 1 factor saja yang lebih dominan atau factor utama yang menghambat pembangunan ekonomi daerah yaitu Perkembangan penduduk dan tingkat pendidikan yang rendah. menurut saya perkembangan penduduk dapat menjadi pendorong maupun penghambat pembangunan. Perkembangan penduduk yang cepat tidak selalu menjadi penghambat dalam pembangunan ekonomi jika penduduk tersebut mempunyai kapasitas untuk menyerap dan menghasilkan produksi yang dihasilkan. dan biasanya tingkat Pendidikan di daerah daerah pinggiran atau terpencil lebih rendah dari Pendidikan yang di kota. dengan pelayanan ataupun fasilitas yang berbeda,dan ini juga terjadi di lingkungan saya. mungkin dengan tingkat Pendidikan yang rendah mempengaruhi dalam pembangunan ekonomi.
BalasHapusHallo mba alfii, menurut mba alfiani ketika masa pandemi covid seperti ini apakah pembagunan daerah dapat berjalan seperti semestinya ??
BalasHapus